Hari ini: Sabtu, 02 Maret 2024
Sabtu, 18 Maret 2023, 20:30 WIB

Fakta-fakta Seputar Rabies Kucing yang Jarang Diketahui

Fakta-fakta Seputar Rabies Kucing yang Jarang Diketahui

Penyakit anjing gila (rabies) pada kucing (sumber: Pixabay/@photosforyou)

Apakah kamu tahu bahwa rabies juga bisa menyerang kucing? Agar kita tidak tertular, ketahui fakta-fakta kucing rabies beserta cara menanganinya berikut.

Sobat Pintar, sebagai seorang pecinta dan pemelihara kucing, ada baiknya kita tidak hanya tahu mengenai metode memelihara kucing yang benar. Kesehatan kucing adalah salah satu aspek yang tidak bisa lepas saat merawat hewan berbulu yang satu ini.

Ketika berbicara tentang kesehatan, pasti akan berhubungan dengan yang namanya penyakit. Nah, rabies adalah salah satu penyakit kucing yang sangat harus kita perhatikan dengan baik supaya tidak tertular.

Agar tidak salah informasi, di bawah ini ada penjelasan dari beserta fakta-fakta terkait rabies kucing yang sudah drh. Anggit Sih H rangkum dari beberapa sumber terpercaya. Yuk mari kita simak bersama-sama.

Follow Instagram @PintarPet untuk lebih tahu tentang Kucing lainnya!
>> FOLLOW DISINI

Deretan Fakta Rabies Kucing

Kucing Rabies
kucing rabies (sumber: pixabay/@aruggeri)

Tidak hanya menyerang anjing, faktanya penyakit berbahaya yang disebabkan oleh virus ini juga bisa menginfeksi kucing peliharaan dan bahkan juga kita sebagai pemiliknya.

Mulai dari penularan hingga fase gejala klinis, berikut adalah fakta-faktanya:

1. Rabies Kucing Dapat Menular ke Manusia

Rabies adalah salah satu penyakit mematikan yang menyerang kucing maupun anjing dan dapat menular ke manusia (zoonosis). Tak heran, penyakit ini disebut juga dengan penyakit anjing gila karena menyerang sistem saraf dan otak.

Rabies sendiri, termasuk ke dalam PHMS (Penyakit Hewan Menular Strategis) yang ditetapkan oleh pemerintah Indonesia, melalui Keputusan Kementrian Pertanian Nomor 4026/Kpts/OT.41D/4/2013.

2. Rabies Dapat Menular Melalui Luka Terbuka

Rabies ditularkan melalui air liur dari hewan terinfeksi rabies. Virus ini memperbanyak diri di hipokampus otak dan menyebar melalui syaraf menuju kelenjar air liur.

Pintu masuk virus ini adalah luka terbuka. Jadi, meskipun terjilat oleh hewan rabies, maka akan tetap terjadi penularan bila jilatan tepat pada kulit yang sedang terluka.

3. Rabies adalah Virus Mematikan

Sekalinya terinfeksi, hewan akan sulit sekali diobati. Hal ini disebabkan karena perjalanan penyakit rabies berlangsung cepat dan langung menyerang sistem saraf pusat. Tak jarang, euthanasia (mengakhiri hidup-nya) menjadi satu-satunya pilihan untuk mencegah terjadinya penularan yang lebih parah lagi.

4. Rabies Kucing Terbagi Atas 3 Fase

Fakta menarik yang perlu kamu ketahui berikutnya adalah fase gejala klinis rabies yang tahapan nya dapat kamu lihat di bawah ini.

  • Fase pertama adalah fase prodormal. Hewan akan cenderung mencari tempat yang gelap untuk menyendiri dan akan agresif bila terganggu. Fase ini adalah gejala photophobia atau takut cahaya, karena virus sudah mulai menyerang sel saraf mata. Hewan tidak mau makan dan demam. Fase isi dapat terjadi selama 2 hari.
  • Fase kedua adalah fase eksitasi. Hewan akan mulai menyerang dan memakan segala apa saja yang ada didepannya, termasuk benda mati sekalipun (pica). Hewan akan kesulitan menelan air, sehingga ia takut dengan air (hydrophobia). Karena terjadi pica dan hydrophobia, maka akan terjadi hipersalivasi (keluarnya air liur berlebih). Fase ini bisa terjadi selama 1-7 hari.
  • Fase terakhir adalah fase paralisis. Hewan akan mengalami kejang-kejang karena kehilangan kontrol sarafnya kemudian mati.

Setiap fase klinis terjadi dalam waktu yang berbeda-beda untuk setiap hewan terinfeksi. Ada 3 macam bentuk gejala stadium rabies kucing berdasarkan lamanya fase gejala klinis yaitu furius rabies, dumb rabies, dan asymtomatis rabies.

5. Virus rabies dapat mati bila terkena air sabun

Meskipun rabies adalah virus yang sangat mematikan, virus ini mudah sekali mati bila terpapar oleh sabun/detergen. Prinsip ini lah yang dipegang untuk melakukan penanganan gigitan hewan anjing atau kucing galak yang terduga rabies.

Kenapa demikian? Karena virus rabies memiliki lapisan amplop yang terbuat dari lemak glikoprotein yang hanya akan larut atau hilang ketika terpapar oleh detergen.

6. Rabies masih ada di wilayah Indonesia

Bagi kamu yang belum tahu, ada kasus rabies yang pernah menjadi epidemi di Flores NTT. Di wilayah Indonesia lainnya, seperti Pulau Jawa, Propinsi Bali, NTB, Kalimantan Barat dan Papua pun kasus rabies ini masih terjadi.

Pemerintah masih berusaha menanggulangi dengan cara mengadakan vaksinasi rabies gratis yang diberikan melalui satuan dinas terkait di setiap kabupaten setempat.

Pertolongan Pertama Digigit Kucing Rabies

Penanganan Rabies Kucing
penanganan rabies kucing (sumber: pixabay/@Daga_Roszkowska)

Setelah mengetahui apa saja fakta-faktanya, tentu kamu juga harus mengetahui cara melakukan pertolongan pertama rabies kucing ketika tidak sengaja tergigit hewan yang diduga terjangkit penyakit tersebut.

Oleh sebab itu, segera lakukan beberapa langkah di bawah ini ketika kalian terkena gigitan kucing atau anjing rabies :

  • Segera mencuci tangan menggunakan air sabun selama 10-15 menit;
  • Seka luka menggunakan antiseptik atau alkohol 70%;
  • Segera kunjungi rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan vaksin rabies;
  • Amankan/kandangkan hewan terduga rabies; dan
  • Lapor ke dokter hewan atau Dinas Peternakan terdekat untuk ditindaklanjuti.

Sobat Pintar, demikianlah akhir dari ulasan seputar fakta-fakta rabies pada kucing beserta langkah-langkah penanganan ketika terkena gigitan kucing yang diduga rabies.

Semoga dengan membaca artikel ini, kamu dapat lebih memahami arti pentingnya kesehatan bagi kucing kesayangan kalian di rumah ya!

* Artikel ini adalah guest post drh. Anggit Sih H dari pethealthspecialist

Jika kamu suka dengan artikel PintarPet, jangan lupa bagikan artikel ini ke seluruh dunia dan follow juga Instagram @pintarpet untuk tahu informasi tentang Kucing terbaru lainnya!

Baca juga artikel menarik berikut:

Perhatian: Informasi ini dihimpun dari beberapa sumber. Tim PintarPet tidak bertanggung jawab atas cidera, kematian, kerusakan atau kerugian langsung maupun tidak langsung, materiil dan immateriil yang disebabkan oleh informasi yang kami berikan. Untuk informasi dan tindakan lebih lanjut, sebaiknya kamu bisa mengkonsultasikannya dengan dokter hewan terdekat.

Referensi Tulisan [ Tampilkan ]
  • Adjid RMA, Sarosa A, dkk. 2005. Penyakit Rabies di Indonesia dan Teknik Pengembangan Diagnosanya. Wartazoa Vol.15(4): 154-172
  • Kepmentan No.121/KPTS/PK.320/M/03/2023 tentang Penetapan Jenis Penyakit Hewan Menular Strategis
  • Weese Scoott. 2020. A Colour Handbook Infectious Disease of Dog and Cat. Kanaada: CRC Press

Tentang Penulis

Saya adalah lulusan Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) Binus University 2013 yang antusias dengan hewan peliharaan seperti kucing, ikan dan juga hewan peliharaan lainnya.

Ingin bekerja sama dengan PintarPet? Hubungi saya disini.

Komentar