Hari ini: Kamis, 11 Agustus 2022
Senin, 20 Desember 2021, 10:00 WIB

Kucing Gigit Ekor Sendiri? Ini Penyebab, Gejala & Cara Merawatnya

Kucing Gigit Ekor Sendiri? Ini Penyebab, Gejala & Cara Merawatnya

kucing gigit ekor sendiri - pixabay

Kadang kamu melihat keanehan pada kucingmu, salah satunya suka gigit ekor sendiri. Kenali penyebab kucing gigit ekor sendiri & cara merawatnya dengan baik

Sobat Pintar, kucing gigit ekor sendiri memang terlihat menggemaskan, semua tingkah dan ngeongannya berhasil menarik semua orang yang melihatnya.

Dari banyak tingkah konyolnya, apakah kamu pernah melihat kucing mu ini menggigit ekornya sendiri?

Faktanya, kucing yang menggigit ekornya sendiri ini harus diberikan perawatan. Kemungkinan besar, saat ini ia sedang mempunyai sindrom hyperesthesia.

Lantas, apakah itu sindrom hyperesthesia? Mari bersama kita pahami fakta-fakta berikut ini, supaya ia tidak menyakiti dirinya sendiri lagi. 

Mengenal Sindrom Hyperesthesia Pada Kucing Gigit Ekor Sendiri

Kucing Gigit Ekor Sendiri
kucing gigit ekor sendiri - rebelmouse

Seperti namanya yaitu hyperesthesia yang memiliki arti “terlalu peka pada rangsangan”.

Ketika kucing mengalami sindrom ini, maka ia menjadi sangat peka terhadap rangsangan, khususnya di daerah bawah punggung ke tulang belakang dan ekor. Apabila disentuh, ototnya akan berkontraksi dan kulitnya akan berkedut atau tergulung. 

Keadaan ini juga biasa dikenal dengan “rolling skin”, neuritis, neurodermatitis, dermatitis pruritus, dan epilepsi psikomotorik.

Sebab banyak sekali julukan yang diberikan terhadap gangguan hyperesthesia, sehingga dapat disimpulkan jika kondisi ini mempunyai banyak sekali penyebab. 

Hyperesthesia merupakan sebuah kondisi yang sangat langka. Bahkan hyperesthesia acap kali merupakan diagnosis eksklusi, sesudah membandingkan temuan pada sisi neurologi, perilaku, dan dermatologi.

Apabila kondisi neurologi dan dermatologi dikesampingkan, lalu hyperesthesia ini bisa digolongkan menjadi gangguan perilaku. 

Di bawah ini terdapat penyebab, gejala dan perawatan untuk kucing dengan sindrom hyperesthesia yang harus kamu ketahui. 

Follow Instagram @PintarPet untuk lebih tahu tentang Kucing lainnya!
>> FOLLOW DISINI

Penyebab Hyperesthesia Pada Kucing Gigit Ekor Sendiri

Biasanya hyperesthesia ini diklaim menjadi gangguan perilaku kompulsif yang ditunjukkan dengan menyakiti diri sendiri pada kucing.

Penyebabnya hal ini terjadi pada kucing yaitu adanya gangguan displacement. Perilaku displacement umumnya diperoleh karena beberapa faktor yang berbeda satu dan lainnya. 

Contoh seperti, kucing mu ingin minum, namun kamu cegah. Atau mungkin saja kamu mempunyai dua kucing peliharaan di rumah dan salah satu dari kucing tersebut ingin minum, namun kucing yang dominan mencegahnya.

Selain itu kucing yang memiliki sindrom ini, dapat disebabkan juga bisa dari lingkungan sekitarnya. Seperti tempat tinggalnya yang terlalu berisik dan panas sehingga terjadilah gangguan perilaku kompulsif.

Nah apabila perilaku ini berlanjut terus menerus pada kucing peliharaanmu, keadaan ini bisa menyebabkan rasa frustasi yang berlebihan dan memicu kelainan neurotransmiter.

Normalnya kucing yang lapar, takut dan memiliki insting kompetitif akan menyebabkan keinginan untuk makan, melarikan diri atau melawan. 

Namun pada kucing hyperesthesia, mereka akan cenderung menyakiti dirinya sendiri dan parahnya hal ini bisa terjadi tanpa ada faktor penyebabnya sama sekali.

Kelainan neurotransmiter pada kucing dengan sindrom hyperesthesia yang paling sering terjadi adalah: 

  • Serotonin: Kucing hyperesthesia memiliki tingkat serotonin yang rendah dan menyebabkan suasana hatinya sangat berantakan.
  • Dopamin: Tingkat dopamin yang rendah pada kucing hyperesthesia berdampak pada emosinya sehingga mereka tidak pernah memiliki rasa yang menyenangkan.

Gejala Hyperesthesia Pada Kucing Gigit Ekor Sendiri

Kulit yang tergulung atau berkedut merupakan sebuah gejala utama dari hyperesthesia. Kucing yang mengalami sindrom ini, maka akan menunjukkan banyak perilaku yang aneh, acap kali serupa dengan yang berhubungan dengan epilepsi, misalnya: 

  • Adanya lesi pada kulit area hyperesthesia. 
  • Mutilasi diri seperti, mencabut rambut dan menggigit area sensitif sampai terluka. 
  • Kejang otot. 
  • Ekor berkedut. 
  • Sejumlah kucing bisa saja memperlihatkan perilaku yang berlawanan sekali dari sifat normalnya, yang biasanya ia lembut bisa berubah menjadi sangat agresif. 
  • Kucing menjadi rewel dan sangat aktif, umumnya ia akan berlarian sambil mendesis, menggeram, dan mengeong dengan keras. 
  • Kucing akan melukai dirinya sendiri dengan menggigit ekor, tubuh bagian samping dan punggung. 
  • Kucing selalu menatap ekornya seperti akan menyerang. 

Tidak hanya kulit seperti tergulung atau berkedut saja, ketika bagian dengan hyperesthesia ini kamu sentuh, maka ia akan berliur, rewel, menggigit/menjilat/menggaruk punggung, ekor atau panggul sampai kencing. Ia akan secara tiba-tiba menjadi aktif sekitar 20 sampai 30 detik hingga ia normal kembali. 

Hyperesthesia bisa menyerang kucing pada seluruh ras, usia dan jenis kelamin. Namun, biasanya keadaan ini terdapat pada kucing yang berusia 1 sampai 5 tahun dan pada ras Persia, Siam, Abyssinian dan Burmese.

Setelah kamu mengetahui apa saja gejalanya, selanjutnya kamu perlu mengetahui bagaimana caranya melakukan perawatan pada kucing yang terkena sindrom hyperesthesia, seperti berikut ini. 

Cara Merawat Hyperesthesia Pada Kucing Gigit Ekor Sendiri 

Sayang sekali hingga saat ini tidak ada obat untuk kucing yang terkena sindrom Hyperesthesia. Namun, tidak berarti gangguan ini akan dibiarkan begitu saja karena perilakunya akan cenderung semakin parah.

Proses perawatan bagi hyperesthesia ini akan terbagi menjadi dua yaitu terapi obat dan terapi perilaku. Umumnya, kedua terapi tersebut akan dikombinasikan agar mendapatkan hasil yang maksimal. 

Terapi perilaku diberikan untuk membuat lingkungan yang konsisten dan kondusif untuk kucing peliharaan mu. Sebagai majikan, kamu bisa beberapa hal berikut ini supaya kucing kamu tidak lagi berperilaku kompulsif: 

  • Jangan pernah menghukum sebab akan meningkatkan stres dan konflik pada kucing, bahkan bisa memperparah perilaku kompulsifnya. 
  • Cegah keadaan yang dapat memicu perilaku kompulsif. Saat perilaku ini terjadi, langsung arahkan kucing mu pada kegiatan yang lebih cocok, misalnya bermain. 
  • Luangkan waktu kamu untuk bermain dengannya secara konsisten dengan memakai mainan yang dapat memicu ia menjadi aktif, misalnya tongkat dengan bola. 
  • Jaga konsistensi ketika kamu sedang berinteraksi dengan kucing. Kamu bisa mencoba metode “perintah-respons-hadiah” untuk seluruh aktivitasnya. Contohnya, kamu dapat memberikan perintah kepada nya untuk duduk, dan ia menurut, kamu bisa berikan camilan kesukaan sebagai hadiah.

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya jika hyperesthesia ini tidak ada obatnya. Sehingga sebelum kamu melakukan terapi obat, lebih baik untuk mengkonsultasikannya kepada dokter hewan terlebih dahulu.

Biasanya kucing hiperestesia yang memiliki kadar serotonin rendah akan ditreatment dengan metode SSRI yaitu dengan cara meningkatkan kadar serotonin di otak.

Selain itu, kamu juga bisa memberikannya air gula hangat dalam jangka waktu tertentu disertai pemberian makanan yang tinggi kadar tirosinnya seperti daging dan telur.

Hal ini dilakukan untuk meningkatkan kadar dopamin yang rendah pada tubuh kucing dengan sindrom hiperestesia tersebut.

Nah, demikianlah pembahasan mengenai penyebab, gejala dan cara merawat kucing gigit ekor sendiri. Jika kamu memiliki kucing dengan diagnosis yang sama seperti di atas, maka kamu harus merawatnya dengan baik ya Sobat Pintar! 

Jika kamu suka dengan artikel PintarPet, jangan lupa bagikan artikel ini ke seluruh dunia dan follow juga Instagram @pintarpet untuk tahu informasi tentang Kucing terbaru lainnya!

Perhatian: Informasi ini dihimpun dari beberapa sumber. Tim PintarPet tidak bertanggung jawab atas cidera, kematian, kerusakan atau kerugian langsung maupun tidak langsung, materiil dan immateriil yang disebabkan oleh informasi yang kami berikan. Untuk informasi dan tindakan lebih lanjut, sebaiknya kamu bisa mengkonsultasikannya dengan dokter hewan terdekat.

Referensi Tulisan [ Tampilkan ]
  • https://www.idntimes.com/science/discovery/alfonsus-adi-putra-alfonsus/fakta-sindrom-hyperesthesia-kucing/5
  • https://www.kompas.com/homey/read/2021/04/22/125600576/alasan-mengapa-kucing-mengejar-ekornya-sendiri?page=all

Tentang Penulis

Saya adalah seorang penulis dan editor situs PintarPet yang antusias dengan hewan peliharaan seperti kucing, musang, iguana dan hewan peliharaan lainnya.

Suka dengan tulisan saya? Hubungi saya disini.

Komentar